Note

No matter how you start, the process will make you better and better. Don't worry to make a mistake, just do it... It's better than doing nothing.

Find me at Path--> Wynfrith M.

Sabtu, 12 April 2014

"Too Late: Prince POV" (1/3)

Kau tahu? Menyesal...saat itu terjadi, rasanya sangat sakit. Itulah yang sedang kurasakan sekarang. Sambil bersembunyi di atas pohon ek yang rimbun aku menangis. Menyalahkan diri sendiri yang terlambat - sangat terlambat - sadar kalau gadis yang sedang duduk di kursi taman itu, gadis yang selalu bersamaku selama ini, aku mencintainya.

Gadis itu, Putri Veronica, duduk dengan anggun di atas kursi marmer itu. Sebuah buku terbuka di pangkuannya. Dia membaca sambil tersenyum. Senyumnya begitu cantik. Begitu cantiknya hingga mampu memukau semua pria yang ada di kerajaan ini. Senyum ini juga yang membuat namanya terkenal ke seluruh kerajaan di dunia ini.

Angin berhembus pelan. Meniup rambut cokelat gadis itu. Mata hijau emeraldnya dapat kulihat dengan jelas untuk sesaat. Lalu, gaun satin putih yang melilit tubuhnya, membuat dia nampak lebih sempurna lagi. Sayang, aku sudah tidak bisa muncul lagi di hadapannya. Tidak sekarang, tidak nanti, tidak akan pernah lagi. Aku bodoh telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan padaku.

Saat dia masih menjadi tunanganku. Aku menyia-nyiakan dia. Memperlakukannya dengan buruk. Dulu aku merasa dia hanya gadis sok tahu, yang selalu mengganggu dengan terus mengikutiku. Padahal harusnya aku sadar, dia masih mau mengikutiku, menemaniku. Aku, Pangeran Rowan. Kasar, pemarah, suka mencela, itulah aku.

Suatu hari, seorang penyihir pengembara muncul. Saat aku sedang sendirian di kamarku, dia muncul, dengan jubah hitam dan tongkat kayu yang sama tinggi dengan tubuh pria itu. "Kau mahluk menyedihkan, memperlakukan wanita yang penuh cinta seperti sampah... Memalukan..." ucapnya sambil menatapku dengan mata kelabunya.

"Siapa kau? Beraninya sekali kau datang tanpa diundang dan menceramahiku?" bentakku.

"Aku? Aku hanya seorang pengembara. Merantau tanpa tujuan. Dan kau tahu? Kurasa aku akan berhenti merantau. Karena aku menemukan sebuah tujuan," ucapnya sambil terkekeh.

Dan di sinilah aku sekarang, bersembunyi. Tidak bisa menampakkan wajahku. Seorang pria datang menghampiri Veronica. Tinggi, kekar, rambut hitam pendek, mata abu-abu. Si penyihir. Veronica tertawa saat penyihir itu mengecup kepalanya, "Ralph, kau ini..."

Sudah cukup, aku sudah tidak tahan lagi. Kuhapus air mataku, menunggu. Veronica meletakkan bukunya di kursi, pergi memetik bunga. Ralph duduk di sana, sendiri. Ini kesempatanku. Aku melompat turun, berusaha menerjang ke arah wajahnya. Tapi dia hanya menyeringai. Sebuah tongkat muncul di tangannya. Dalam sekejap aku sudah berada di tanah. Kakiku patah, antenaku putus, sayapku sobek, badanku terluka.

"Dasar pangeran bodoh, dalam wujud kecoak masih nekat melawanku?" ujar Ralph sambil terkekeh.

Aku hanya bisa meringis kesakitan. "Jangan mimpi, kau sudah punya banyak kesempatan. Aku memperhatikan kalian cukup lama. Dan kau selalu menyia-nyiakan dia. Kini dia milikku. Aku sudah menghapus keberadaanmu dari ingatan semua orang dengan sihirku. Kau sudah tiada. Seharusnya kau terbang pergi selagi kau bisa."

Veronica kembali dengan beberapa kuntum lili di tangannya. Ralph merapikan kemeja putihnya. "Ada apa? Kenapa memunculkan tongkatmu? Apa ada sesuatu?" tanya Veronica khawatir.

Ralph hanya nyengir, "tidak ada apa-apa, Sayangku. Hanya ada serangga pengganggu." Veronica terkikik, "begitukah, Pangeranku?" Lalu keduanya beranjak pergi.

Inilah akhirnya. Dengan tubuh hancur aku berteriak kesakitan di tengah taman, menanti datangnya maut dalam wujud yang paling ditakuti Veronica. Tidak ada yang mendengar teriakanku, tidak ada yang datang menolongku, tidak ada Veronica. Aku menyesal. Dan penyesalan ini sangat terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar